Share!
Ilustrasi Yesus Gembala yang baik
Saat manusia jatuh ke dalam dosa, ia cenderung melakukan dosa. Baik dirinya bahkan sampai keturunannya akan melakukan dosa. Buktinya? Tidak ada orangtua yang mengajarkan anak untuk berbohong. Tapi kenyataannya, anak kecil pun bisa berbohong untuk menutupi kesalahan yang diperbuatnya. Roma 3: 23 juga menyatakan hal senada. “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia telah kehilangan hakikatnya yang utama akibat dosa. Akibatnya, manusia cenderung melawan Allah, dan melakukan hal yang terlarang di hadapan Allah, yaitu dosa.
Tapi apakah sampai di situ saja? Tidak bila kita lihat terusan ayat tersebut, dalam Roma 3:24-25 dengan jelas menyatakan tindakan penyelamatan Allah. “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuatnya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. Hubungan Allah dan manusia yang terputus akibat dosa kembali dipulihkan. Siapa yang punya inisiatif terlebih dulu? Allahlah yang memulainya. Dia mengajak Saudara dan saya untuk datang kepada-Nya, membina hubungan yang baik kembali.
Dalam kitab 1 Yohanes 1:9 dikatakan bahwa “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dossa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Mengapa Allah dikatakan adil? Ya, karena Allah menghargai orang yang telah berupaya melakukan kehendak-Nya. Allah juga yang akan menghukum setiap manusia berdosa. Jadi Allah tidak pilih-pilih, Dia melakukannya adil, sama rata terhadap semuanya. Tapi dikatakan pula, bahwa Allah adalah setia. Itulah sebabnya Allah dalam Yesus mau menjadi manusia dan menerima hukuman menggantikan manusia berdosa. Manusia berdosa seharusnya dihukum. Tapi “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Korintus 5:21). Allah yang marah dan murka atas dosa kita, tapi Allah melalui anak-Nya Yesus yang menanggung dosa kita sendiri. Kurang apa lagi?
Biarlah kita yang menyadari kasih karunia Allah yang begitu besar tetap mau percaya dan senantiasa bersyukur atas karunia yang tidak ternilai harganya itu. Sama seperti pemzamur:

“Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.” (Mazmur 63: 4-5).