Browse By

Aku Menantikan Tuhan

Menanti bukanlah perkara yang mudah. Kita menanti dalam mobil yang terjebak kemacetan, dalam antrian untuk membayar barang belanjaan di toko, atau dalam menunggu orang lain di sebuah tempat. Menanti nyatanya mungkin adalah hal yang paling tidak disukai oleh manusia. Kita kemudian mengeluarkan handphone kita dan mulai membaca beberapa pesan, mungkin juga sibuk melihat situs-situs atau membalas email yang masuk. Mungkin juga kita mulai menguap dan menggerutu.

Keadaan ini tentu akan semakin memburuk ketika kita menantikan sesuatu yang kita dambakan. Doa yang belum dijawab akan kehadiran seorang pasangan hidup, seorang anak, maupun keluarga yang bersatu. Rasa risau, khawatir, dan tidak sabar terus mengusik hati kita.

Aku Menantikan Tuhan

Aku Menantikan Tuhan

Aku Menantikan Tuhan

Nyatanya dalam sebuah penantian, kita belajar sikap dan kebiasaan yang baik dalam diri kita: kesabaran, kerendahan hati, mau tunduk, tabah dan prihatin, dan pantang menyerah. Sikap-sikap yang hanya bisa kita pelajari saat kita menantikan sesuatu dalam waktu yang lama.

Daud di dalam Mazmurnya juga mengalami hal yang sama, “Aku sangat menanti-nantikan Tuhan; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong.” (Maz 40:2). Daud berada dalam masa penantian Allah menjawab doanya. Dalam masa penantian itu, ternyata Allah mengijinkan Daud untuk belajar mengasihi dan mempercayai-Nya sepenuh hati (ay.5). Dalam masa-masa penantian itu bahkan Allah “memberikan nyanyian baru” (ay.4) sebuah sukacita yang amat besar di masa penantian kita.

Marilah kita belajar untuk tetap bersukacita dan mengandalkan Tuhan di masa penantian yang kita miliki. Untuk semakin berserah dan memuji nama-Nya melalui segenap perbuatan baik yang kita lakukan. Lagu “Sai Hutagam do Tuhanku” saya tuliskan untuk menutup tulisan saya kali ini. Sebuah lagu dari Buku Ende yang mengajarkan kita kembali untuk selalu menantikan Tuhan di dalam kehidupan ini.

Sai hutagam do Tuhanku, Sai masihol rohangki
Diharoro ni Tuhangku songon na nidokNa i
Sai mardongan olopolop huriaM managam Ho
Maranata, ro, o Tuhan, Amen, sai tibu ma ro!

Las ni roha ndang hapalang do manggohi rohangki
Dung binege soaraNa di na ro Tuhanta i
Sai mardongan olopolop huriaM managam Ho
Maranata, ro, o Tuhan, Amen, sai tibu ma ro!

Aku menantikan Tuhan dan rinduku terpendam
Akan kedatangan Yesus dijanjikan padaku
Semuanya jemaat-Mu mengelu-elukan-Mu
Datanglah cepat ya Tuhan, Amin datang segera!

Kesukaan yang ceria memenuhi hatiku
Bila kudengar suara waktu datang Tuhanku
Semuanya jemaat-Mu mengelu-elukan-Mu
Datanglah cepat ya Tuhan, Amin datang segera!

(BE 539 dan KJ HKBP 539)

Sumber Gambar : BlogSpot

Recommended for you

2 thoughts on “Aku Menantikan Tuhan”

  1. Coldiceberg says:

    Ternyata manis sekali kata2 dalam liriklagu Sai Hutagam

    1. Daniel Sihombing says:

      Ya, memang lagu ini sangat indah. Mengingatkan kita akan hidup kita yang sementara dan akan kembali kepada Tuhan kelak nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published.