Browse By

Reaksi Terhadap Kematian Yesus

The Lamb of God
Yesus, Anak Domba Allah yang menebus dosa manusia.

Sore hari, saat hujan, ketika dalam perjalanan, saya tiba-tiba terpikir dan merenung. Entah mengapa setelah melihat awan yang gelap, saya teringat akan peristiwa kematian Yesus. Masih segar dalam ingatan saya, saat menonton “The Passion of the Christ”, sabtu malam lalu. Awan nampak begitu gelap seakan mengisyaratkan akan begitu gelapnya dosa manusia. Kematian Yesus bagi sebagian orang adalah akhir, akhir dari apa? Akhir dari kekuasaan dan karya Allah di bumi. Banyak manusia yang merasa seakan ditinggalkan oleh Allah, seiring dengan kematian Yesus di kayu salib. Sejujurnya, kita tidak boleh naif, seringkali kita juga merasakan hal yang serupa. Perasaan negatif seperti itu akan menimbulkan tanggapan negatif juga, reaksi yang salah akan kematian Yesus.

Tercatat ada 4 reaksi yang salah mengenai kematian Yesus:
    1. Menangisi dan menderita karena ditinggalkan (Yohanes 20:11-15). Saat Maria sampai di depan kubur Yesus, apa yang ia lakukan? Ternyata ia menangisi kematian Yesus. Maria menganggap bahwa mayat Yesus sudah diambil orang dan ia tidak mengetahui di mana letak mayat Yesus. Bahkan selanjutnya diceritakan bahwa Maria tidak mengenali Yesus yang berdirl di belakangnya, malah Maria mengira Yesus adalah penunggu taman. Dari kejadian yang dialami Maria kita dapat belajar 2 hal.

Yang pertama, menangisi atau sedih akan kematian Yesus adalah tindakan keliru. Sebagai umat percaya, kita harus meyakini kematian bukanlah akhir segalanya, namun adalah permulaan hidup yang kekal dalam Kristus Yesus. Yesus yang telah mati demi dosa kita, hanya mati secara jasmani, tetapi tidak secara rohani.
Yang kedua, kita seringkali salah bertindak apabila kita larut dalam kesedihan. Maria adalah contoh yang paling jelas. Dia sampai mengira  bahwa Yesus adalah penunggu taman. Kita mengetahui bahwa Maria adalah pengikut Yesus yang setia, bahkan sampai mati-Nya di kayu salib. Namun, tindakan Maria membuktikan,dalam kesedihan kita cenderung tidak melihat adanya sukacita di baliknya. Seorang filsuf terkenal dari Italia pernah berkata, janganlah kamu  menangis karena matahari terbenam, karena air mata akan menghalangimu melihat bintang-bintang.

  • Merasa takut (Yohanes 20:19). Dalam ayat tersebut, diceritakan bahwa murid-murid berkumpul di suatu tempat dengan pintu terkunci karena mereka takut akan orang Yahudi. Sebelumnya, saat masih bersama Yesus, mereka Sama sekali tidak takut. Namun setelah mengetahui kematian Yesus, mereka menjadi takut, takut dianiaya dan karena kehilangan sosok guru. Menjadi takut itu wajar, namun seperti dalam firman Tuhan dalam 1 Yohanes 4:18 “Di dalam kasih tidak ada ketakutan, kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.”
  • Bimbang akan keberadaan Yesus (Yohanes 20:24). Tomas, salah satu murid Yesus adalah satu contoh mengenai manusia yang bimbang atau ragu akan kebangkitan Yesus. Walau murid-murid lain sudah meyakthkannya akan kebangkitan Yesus, namun ia tetap kukuh tidak percaya. Bahkan la berkata, sebelum la melihat bekas paku di tangan dan mencucukkan tangannya ke lambung Yesus, ia tidak akan percaya. Disini jelas terlihat, intensitas waktu bersama Yesus tidaklah membuktikan intensitas iman. Tomas yang adalah murid Yesus dan selalu ikut ke mana Yesus melangkah malah tidak percaya akan kebangkitannya.
  • Menjalani hidup seperti biasa (Yohanes 21:1-3). Kita dapat membayangkan bagaimana Petrus, Tomas, Natanael, clan murid Yesus lainnya menjalani kehidupan keseharian mereka. Menjadi penjala ikan adalah pekerjaan mereka sebelum menjadi murid Yesus, atau penjala manusia. setelah mengetahui Yesus telah mati, mereka kehilangan harapan dan panutan, bagaimana menjadi penjala manusia. Mereka nampaknya putus asa dan ketakutan dalam menjalani tugasnya. Putus asa adalah halangan menjadi pekerja Kristus yang baik dan setia.

Tiga hari berlalu, dan datanglah minggu paskah. Minggu yang dinanti-nantikan murid Yesus, dari dulu hingga saat ini, hari kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus dari kematian menuju kehidupan yang kekal. Kebangkitan-Nya adalah kebangkitan kita juga dari segala penderitaan dunia kepada sukacita surga yang besar. Ada 3 reaksi yang benar mengenai kebangkitan Yesus.
  1. Melangkah dalam kepastian (Markus 16 : 1-4). Ayat tersebut menceritakan mengenai tiga orang wanita yang hendak pergi ke kubur Yesus untuk meminyaki-Nya. Pada awalnya mereka nampak ragu karena tidak ada yang mau menggulingkan batu kubur itu bagi mereka. Tetapi mereka tetap berjalan pergi dalam kepastian. Mereka tetap setia dan ingin melihat Yesus. Dan, akhirnya, batu itu sudah terguling dan kecemasan mereka tidak terjadi.
  2. Jangan takut (Markus 16:6). Ada orang muda dalam kubur Yesus yang kemudian berkata agar para wanita tidak takut dan memberitahukan kebangkitan Yesus. Yesus telah menang melawan maut, dan sekarang sebagai murid Yesus apa yang perlu kita takutkan? Kematian Yesus telah menghilangkan rasa takut dan membangkitkan semangat dalam melakukan tugas sebagai murid Yesus.
  3. Pergi dan memberitakan kabar sukacita (Markus 16:7). Reaksi terakhir yang paling panting adalah pergi dan memberitakan kabar tentang kebangkitan Yesus kepada orang lain. Tentunya kita tidak perlu bertindak seperti pendeta yang mengabarkannya melalui mimbar, namun sebagai pelajar kita juga dapat bertindak aktif melalui kegiatan kita sehari-hari, kepada orangtua, saudara, ataupun teman. Biarlah kematian dan kebangkitan Yesus, membawa perubahan dalam diri teman-teman, menjadi lebih baik dan melakukan reaksi yang benar di dalam setiap tindakan kita.
Majesty SMA Negeri 2009, Nugroho Christian

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.