Browse By

Mengajar dengan Bercerita Seperti Yesus

Dalam Alkitab, kita sering melihat Yesus mengajar dengan bercerita kepada orang-orang. “Yesus pun berkeliling diseluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah Ibadah…” (Matius 4:23), “Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka..” (Matius 5:2), “…Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar…” (Markus 1:21). Lalu bagaimana ketika Yesus mengajar orang-orang dengan perumpamaan-perumpamaan. Dia menceritakan kerajaan sorga dengan cerita seorang penabur, ilalang di antara gandum, biji sesawi dan ragi, harta terpendam dan mutiara yang berharga, pukat, domba yang hilang, raja dan bawahan. Yesus menggunakan hal sehari-hari, yang mudah dibayangkan, yang selalu dilihat, untuk menjelaskan kerajaan Allah dan hal-hal surgawi lainnya.

Mengajar dengan Bercerita

Yesus yang mengajar dengan bercerita

Yesus yang mengajar dengan bercerita

Berbeda dengan orang-orang Farisi dan Ahli Taurat, Yesus mengajar dengan bercerita. Dia tidak mengajar dari kitab Talmud dan taurat agama Yahudi, dan memilih dengan cara berbicara yang sederhana dari seorang pencerita. Orang-orang yang mendengar cerita dan ajaran Yesus pun kagum dan takjub seperti tertulis dalam Markus 1:22. Dibanding dengan khotbah dan seruan-seruan keras dengan kalimat-kalimat tegas, cerita dari hati dengan contoh sehari-hari lebih melekat dan membekas di hati. Orang-orang pun jadi mudah memahami dan mengingat apa ajaran Yesus.

Saya jadi teringat dengan Samuel Mulia, seorang pemerhati gaya hidup dan penulis rubrik “Parodi” di Kompas Minggu. Dalam rubrik parodi, Samuel sering memaparkan berbagai macam fenomena hidup keseharian yang diteropong dari kacamatanya sendiri, yang dari tulisannya, terbaca kesan kalau itu adalah kehidupan para sosialite Jakarta. Dia tidak segan-segan menggunakan cerita dan pengalaman pribadinya untuk menyoroti suatu topik. Topik yang diangkat pun beragam, mulai dari kehidupan sekuler, sosialita masyarakat Indonesia, pandangan terhadap pejabat pemerintah, hingga satire pada masyarakat umum. Lewat rubrik Parodi, saya sadar bahwa dia juga mengikuti cara Yesus dalam mengajar. Dia menasehati dan mengajar dengan bercerita.

Cerita Yesus

Yesus mengajar dengan bercerita, dan anehnya cerita Yesus tidak pernah aus dimakan waktu dan jaman. Cerita 2000 tahun lalu tetap up-to-date sampai sekarang, dan tetap menegur banyak orang. Para pengkhotbah dan pendeta, pengajar dan aktivis Kristen juga tidak pernah kehabisan bahan untuk mengulas dan mendalami cerita Yesus.

Cerita Yesus adalah soal hati. Bagaimana menerima dan memahami kerajaan Allah. Perumpamaan Yesus penuh inspirasi dan menegur kita untuk tidak egois, namun hidup sesuai dengan kehendak Allah. Ajaran Yesus tepat sasaran, menasehati kita agar terus mengingat dan merenungkan firman dan karya-karya Allah dari jaman purbakala.

Kita juga bisa mencontoh Yesus yang mengajar dengan bercerita. Kita dapat menggunakan kisah perjalanan iman dan kehidupan kita untuk mengarahkan orang lain kepada Yesus, Sang Guru dan pencerita yang ulung. Cerita pengalaman hidup tentu akan lebih mudah dimengerti dan diingat serta membekas di hati orang-orang yang mendengar kisah itu.

Mari mengajar dengan bercerita!

Sumber gambar : http://totpreschool.org/img/Cartoon%20Jesus.jpg

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.