Browse By

Renungan di Hari Jadian

Renungan di Hari Jadian – Setelah merayakan Natal dan Tahun Baru bersama di rumah setelah tujuh tahun berlalu, Bertha dan adik-adiknya kembali lagi ke rutinitas kerja dan kuliah di Jakarta. Kami bertemu tanggal 2 Januari sepulang kerja. Kami makan bersama di Atrium sambil menikmati kembang loyang

Tergoda oleh Kenyamanan Hidup

Banyak orang yang mungkin setuju bahwa hidup di Australia atau Singapura terlihat begitu nyaman dan menyenangkan. Atau kalau di Indonesia, tinggal di daerah pertanian Bali. Jauh dari hingar-bingar kota, dikelilingi dengan hamparan alam nan cantik. Kita tidak perlu berdesak-desakan dan berjuang menerobos kemacetan setiap hari

Pengampunan Ajaib

Seorang pria mati karena dibunuh. Saudara pria itu akhirnya bertemu langsung dengan si pembunuh di ruang pengadilan setelah sepuluh tahun kejahatan itu berlalu. Dengan suaranya yang gemetar, ia berkata, “Saudara saya di alam baka mungkin dapat mengampuninya, tetapi saya tak bisa. Saya tetap menginginkan hukuman

Bersama-Mu Bapa Kulewati Semua

Hidup manusia berjalan di dalam tiga fase yakni masa lalu, kini, dan yang akan datang. Orang mengatakan masa lalu adalah kenangan, masa kini (sekarang) adalah kenyataan, dan masa depan adalah harapan. Mereka menambahkan bahwa kita tidak akan bisa menghentikan waktu. Waktu akan terus berjalan.­­ Namun,

Bersyukur dalam Iman dan Pengharapan

Natal mengingatkan kita untuk bersyukur dalam iman dan pengharapan dan bersukacita karena “hari ini telah lahir bagimu Juruselamat!” Tentu saja, karena kabar gembira tentang kelahiran seorang Juruselamat, memang harus mengingatkan kita akan keadaan kita akan keadaan kita yang gawat, yang amat membutuhkan penyelamatan. Orang baru