Browse By

Memahami Kedaulatan Allah

Seluruh isi Alkitab menyatakan kedaulatan Allah. Kedaulatan Allah dalam memilih umat, kedaulatan Allah memilih manusia, kedaulatan Allah dalam memberi janji dan perintah, kedaulatan Allah dalam memberkati dan mengutuk. Dan dari seluruh Alkitab, kita bisa belajar bahwa kedaulatan Allah adalah mutlak, tidak tergantung waktu atau kondisi, tidak terpengaruh objek, dan Allah bebas menentukan dan menjalankan kehendak-Nya.

Apa Kata Alkitab mengenai Kedaulatan Allah?

Mari kita melihat beberapa ayat Alkitab yang menunjukkan kedaulatan Allah.

Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya! (Mazmur 115:3)

…Ia [Allah] berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya… (Daniel 4:35)

Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemashyuran dan keagung, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala. (1 Tawarikh 29:11)

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia; Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36)

Dari beberapa ayat Alkitab di atas kita dapat merangkum makna kedaulatan Allah. Pertama, kedaulatan Allah meliputi segala bumi. Tidak ada yang dapat berada di luar kedaulatan Allah. Allah yang menciptakan segalanya, Allah yang berdaulat dan berkuasa atas segalanya. Kedua, kedaulatan Allah adalah absolut. Tidak ada yang bisa membatasi atau menggagalkan kedaulatan dan rencana Allah. Ketiga, kedaulatan Allah tidak berubah. Allah berdaulat dan berkuasa atas segalanya dan kedaulatan itu kekal.

Implikasi dalam Kehidupan

Memahami Kedaulatan Allah

Memahami Kedaulatan Allah

Setelah memahami arti kedaulatan Allah, apa implikasinya dalam kehidupan kita? Setidaknya ada 2 implikasi dari kedaulatan Allah atas hidup manusia.

Pertama, kita mesti memaknai dan menghargai kedaulatan Allah dalam hidup. Kedaulatan Allah mencakup segalanya, termasuk juga diri kita sendiri. Allah yang menciptakan kita, Allah yang berdaulat penuh atas hidup kita.

Yesus sendiri dalam doa-Nya di Taman Getsemani juga menegaskan kedaulatan Allah dalam hidup. “…tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39)

Hidup kita bukanlah untuk kita sendiri, namun untuk memuliakan Allah sang pencipta hidup. Biarlah Allah berdaulat dan berkuasa atas hidup kita, biarlah segala kehendak Allah yang jadi, bukan kehendak saya.

Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu, kepada-Nya haruslah engkau beribadah dan berpaut, dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. Dialah pokok puji-pujianmu dan Dialah Allahmu, yang telah melakukan di antaramu perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat, yang telah kaulihat dengan matamu sendiri. (Ulangan 10:20-21)

Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu… (Keluaran 10:12)

Kedua, tidak ada yang terjadi tanpa ijin Allah. Ini yang menjadi pengharapan dalam hidup. Meskipun sulit dan banyak tantangan, namun kita yakin bahwa semua terjadi dalam rencana Allah, dan pasti ada hikmah di balik semuanya itu.

Karya keselamatan Allah melalui sengsara dan kematian Yesus di kayu salib membuktikan kepada kita segalanya terjadi atas seijin Allah. Allah berdaulat atas rakyat dan penguasa, berkuasa atas dosa, dan menang atas kematian. Atas kedaulatan Allah jugalah kita diampuni, dibebaskan dari dosa, dan diajak ke dalam ke hadirat-Nya yang kudus.

Sumber gambar : iamfreewillbaptist.wordpress.com

Recommended for you

Leave a Reply

Your email address will not be published.